Ini Mesin Jahit Fatmawati untuk Menjahit Bendera Merah Putih

20 Aug 2013 // Pendidikan, Regional
EmailShare on Facebook+1Share on Twitter

Reportase24.com, Bengkulu–Siapa pernah melihat langsung mesin jahit jadul yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Sang Saka Bendera Merah Putih pada 1945? Kalau belum, di samping tulisan itu adalah mesin jahit bercat merah muda milik istri Soekarno yang kini disimpan di salah satu ruangan rumah panggung peninggalan ibu negara pertama yang terletak di Bengkulu. Konon, mesin jahit itu buatan 1941.

Demikian disampaikan penjaga rumah Fatmawati Marwan Amanalin kepada Reportase24.com, kemarin. Menurutnya, mesin jahit yang digunakan istri Soekarno yang lahir di Bengkulu pada 23 Februari 1923, itu untuk menjahit bendera Merah Putih sesaat sebelum dikumandangkannnya detik-detik proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, 68 tahun lalu.

“Kalau jahitnya ibu Fatmawati memang di Jakarta saat itu. Makanya, untuk mengenang jasanya, mesin jahit ini lalu dibawa ke Bengkulu dan disimpan di rumah milik ibu sebagai benda bersejarah. Kalau tak salah, mesin jahit itu dibuat tahun 1941. Walau barang lama, tetapi kami selalu merawatnya dengan baik, supaya pengunjung tetap menikmatinya,” ujar Marwan yang ┬ájuga keponakan Fatmawati ini.

Mawan mengakui, perawatan rumah Fatmawati di Bengkulu diserahkan pada keluarga istri Soekarno dan bukan dikelola pemerintah. “Sejak gubernur Bengkulu dipimpin Adjis Ahmad, maka pengelolaan rumah ini diserahkan ke keluarga besar ibu (Fatmawati, red). Apalagi, rasa memiliki keluarga itu lebih dibandingkan diserahkan ke orang lain ,” tutur Marwan pensiunan pegawai Pos Indonesia itu.

Fatmawati, selain berjasa telah menjahit bendera Merah Putih, juga didapuk menerima berbagi tanda kehormatan atas dedikasinya terhadap Indonesia. Misalnya, Bintang Mahaputra Adi Pradana (1995), Ibu Negara Pertama RI (1945), Istri Proklamator Kemerdekaan RI (1945), Perintis Kemerdekaan RI (1977), serta sebagai Janda Perintis Kemerdekaan RI (1977). “Itu baru tanda penghormatan, belum lagi kiprahnya di organisasi wanita saat itu,” ucap Marwan mengakhiri perbincangan.

Reporter: Cecep Hasannudin

 

Beri Respon